Showing posts with label SOD. Show all posts
Showing posts with label SOD. Show all posts

Tuesday, August 21, 2007

Niwana SOD

Slide Presentasi Niwana SOD












Antioksidan Seaktif Enzim SOD, Penangkal Oksigen Radikal Bebas Paling Efektif
Niwana SOD - Penemuan Terbesar setelah Penisilin
website asli : http://sod-japan.com dan http://www.niwanasod.com/
Melalui riset selama 7 tahun akhirnya Prof. Yuki Niwa menemukan teknologi yang dapat merekayasa antioksidan dari tumbuh-tumbuhan sehingga dapat bekerja seaktif dan seefektif enzim SOD alami dalam tubuh bahkan mampu merangsang kerja enzim SOD alami menjadi lebih baik. Penggunaan rutin sesuai anjuran telah berhasil membantu proses perbaikan berbagai penyakit bahkan yang selama ini sulit diatasi. Tak heran bila ia dijuluki sebagai penemuan terbesar setelah penisilin karena di zaman modern ini dunia kesehatan tidak lagi berkutat dengan penyakit infeksi melainkan pada penyakit-penyakit non-infeksi degeneratif yang semakin kompleks.
Keunggulan Niwana SOD karena kealamian bahan dan teknologi pembuatannya :
  • 100% terbuat dari tumbuhan dan bijian : gandum, kulit beras, pearl barley, lobak daikon Jepang, kedelai, poleo juice, biji dan minyak wijen, ekstrak the hijau Jepang, jeruk yuzu, aspalathus linearis dan hatumogi.
  • Proses pemanasan dengan sinar infra red untuk memecah molekul sehingga berberat molekul rendah agar mudah diserap sel.
  • Fermentasi dengan jamur Aspergilus orizae (koji) untuk mengaktifkan komponen antioksidan.
  • Lipofilisasi (pelemakan), tehnik rekayasa sehingga antioksidannya mudah dikenal dan diserap oleh emak membran/dinding sel.
Beberapa pertanyaan muncul berkenaan dengan reaksi yang ditimbulkan setelah mengkonsumsi Niwana SOD. Banyak orang menggangap hal ini sebagai suatu ketidakcocokan atau sebagai efek samping sehingga setelah muncul reaksi langsung dihentikan penggunaannya. Benarkah demikian ?
Niwana SOD dibuat dari bahan-bahan yang 100 % alami, yaitu bahan-bahan yang sering digunakan sebagai bahan pangan untuk konsumsi sehari-hari seperti kacang kedelai, biji dan minyak wijen, gandum, ekstrak teh hijau Jepang, jeruk yuzu dll. Karena itu Niwana SOD sangat aman dikonsumsi dan tidak menimbulkan efek samping. Kalaupun ada reaksi setelah mengkonsumsinya, itu merupakan reaksi perbaikan dan hanya sebagian kecil yang merasakan.
Andapun tidak perlu khawatir karena reaksi perbaikan ini umumnya hanya sesaat saja dan akan reda/hilang dengan sendirinya. Kondisi yang dapat memunculkan reaksi ini yaitu :
  • Seseorang yang secara genetik mempunyai daya tahan tubuh yang kurang baik sehingga muncul reaksi.
  • Sebagai pertanda adanya gangguan pada organ/bagian tubuh tertentu. Perlu dipahami bahwa walaupun kondisi organ sedang terganggu, tidak selalu gejala langsung dirasakan. Konsumsi Niwana SOD akan mempercepat gejala ini keluar, namun itu bukan reaksi perburukan melainkan merupakan bagian dari proses kesembuhan
  • Adanya akumulasi toksin dari obat-obatan yang dikonsumsi dalam periode yang lama sehingga reaksi yang muncul merupakan efek detoksifikasi.
Reaksi perbaikan setelah mengkonsumsi Niwana SOD
Beberapa pertanyaan muncul berkenaan dengan reaksi yang ditimbulkan setelah mengkonsumsi Niwana SOD. Banyak orang menggangap hal ini sebagai suatu ketidakcocokan atau sebagai efek samping sehingga setelah muncul reaksi langsung dihentikan penggunaannya. Benarkah demikian ?
Niwana SOD dibuat dari bahan-bahan yang 100 % alami, yaitu bahan-bahan yang sering digunakan sebagai bahan pangan untuk konsumsi sehari-hari seperti kacang kedelai, biji dan minyak wijen, gandum, ekstrak teh hijau Jepang, jeruk yuzu dll. Karena itu Niwana SOD sangat aman dikonsumsi dan tidak menimbulkan efek samping. Kalaupun ada reaksi setelah mengkonsumsinya, itu merupakan reaksi perbaikan dan hanya sebagian kecil yang merasakan.
Andapun tidak perlu khawatir karena reaksi perbaikan ini umumnya hanya sesaat saja dan akan reda/hilang dengan sendirinya. Kondisi yang dapat memunculkan reaksi ini yaitu :
  • Seseorang yang secara genetik mempunyai daya tahan tubuh yang kurang baik sehingga muncul reaksi.
  • Sebagai pertanda adanya gangguan pada organ/bagian tubuh tertentu. Perlu dipahami bahwa walaupun kondisi organ sedang terganggu, tidak selalu gejala langsung dirasakan. Konsumsi Niwana SOD akan mempercepat gejala ini keluar, namun itu bukan reaksi perburukan melainkan merupakan bagian dari proses kesembuhan
  • Adanya akumulasi toksin dari obat-obatan yang dikonsumsi dalam periode yang lama sehingga reaksi yang muncul merupakan efek detoksifikasi.
Reaksi perbaikan yang terjadi secara umum yaitu :
Rasa mual, ingin muntah, tenggorokan gatal/panas dan kepala sedikit pusing. Bila hal ini terjadi yang sebaiknya anda lakukan adalah :
  • Usahakan banyak minum air putih (tidak dianjurkan air dingin) ± 2 – 2,5 liter/hari (8-10 gelas/hari)
  • Usahakan minum sesering mungkin dalam jumlah yang sedikit (1 gelas) dan tidak dianjurkan minum dalam jumlah yang banyak sekaligus.
  • Turunkan dosis penggunaan Niwana SOD bila perlu, jika dalam 1 minggu berturut-turut keluhan tidak juga mereda.
    Tetapi jika reaksi yang ditimbulkan membuat si penderita mengalami keluhan yang lebih berat dari keluhan sebelumnya, yang harus anda lakukan adalah :
  • Jika anda mampu bertahan dengan keluhan yang ada, alangkah lebih baik jika dosisnya tidak diturunkan. Penurunan dosis hanya akan memperlambat efek terapi sehingga terkesan Niwana SOD tidak efektif untuk penyakit yang anda derita.
  • Tetapi jika anda tidak mampu bertahan, turunkan dosisnya secara perlahan hingga anda merasa nyaman. Jika reaksi mereda, tambahkan dosisnya secara perlahan sesuai dengan anjuran dosis awal
  • Jangan lupa, usahakan tetap minum banyak air putih hangat.








Thursday, August 9, 2007

Antioksidan Resep Sehat & Umur Panjang

Antioksidan Resep Sehat & Umur Panjang

Jakarta, Minggu





Dalam makanan sehari-hari antioksidan banyak terdapat dalam sayuran dan buah-buahan.





Untuk mendapatkan tubuh sehat dan umur panjang, orang melakukan banyak hal. Mulai dari olahraga, menyantap makanan tambahan, sampai bedah kosmetik untuk mengencangkan kulit yang mulai keriput.

Padahal itu hanya permukaan. Yang lebih penting justru bagaimana kita memerangi radikal bebas yang merusak tubuh dari dalam. Antara lain dengan antioksidan seperti dituturkan oleh ahli gizi, dr. Elvina Karyadi, M.Sc., di bawah ini.

Mewujudkan kualitas hidup yang baik di usia lanjut memang tidak mudah tanpa didukung usaha sejak dini di usia muda.

Saat ini kelebihan gizi yang mengakibatkan tingginya prevalensi penyakit degeneratif seperti jantung, kanker, kencing manis, rematik sudah dirasakan sampai di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Belum lagi akibat yang ditimbulkan oleh lingkungan tercemar, kesalahan pola makan dan gaya hidup yang justru merangsang tumbuhnya radikal bebas (free radical) yang merusak tubuh kita.

Kondisi ini mendorong para peneliti baik ahli gizi maupun dokter menggali teori dasar radikal bebas serta mencari bagaimana cara mengendalikan produksi radikal bebas pada tubuh kita. Penelitian di bidang gizi ortomolekuler pada tingkat sel membuktikan, antioksidan dapat melindungi jaringan tubuh dari efek negatif radikal bebas. Ternyata, gangguan atau ketidakmampuan sistem antioksidan tubuh inilah yang menyebabkan berbagai macam penyakit degeneratif.

Apa itu radikal bebas?

  • Radikal bebas merupakan atom atau molekul yang sifatnya sangat tidak stabil (mempunyai satu elektron atau lebih yang tanpa pasangan), sehingga untuk memperoleh pasangan elektron senyawa ini sangat reaktif dan merusak jaringan.

Senyawa radikal bebas tersebut timbul akibat berbagai proses kimia kompleks dalam tubuh, berupa hasil sampingan dari proses oksidasi atau pembakaran sel yang berlangsung pada waktu bernapas, metabolisme sel, olahraga yang berlebihan, peradangan atau ketika tubuh terpapar polusi lingkungan seperti asap kendaraan bermotor, asap rokok, bahan pencemar, dan radiasi matahari atau radiasi kosmis.

Karena secara kimia molekulnya tidak lengkap, radikal bebas cenderung "mencuri" partikel dari molekul lain, yang kemudian menimbulkan senyawa tidak normal dan memulai reaksi berantai yang dapat merusak sel-sel penting dalam tubuh. Radikal bebas inilah biang keladi berbagai keadaan patologis seperti penyakit lever, jantung koroner, katarak, penyakit hati dan dicurigai proses penuaan dini ikut berperan.

Sebenarnya, reaksi pembentukan radikal bebas merupakan mekanisme biokimia tubuh normal. Radikal bebas lazimnya hanya bersifat perantara yang bisa dengan cepat diubah menjadi substansi yang tak lagi membahayakan tubuh. Namun, bila radikal bebas sempat bertemu dengan enzim atau asam lemak tak jenuh ganda, maka merupakan awal dari kerusakan sel yang antara lain:

Kerusakan DNA (deoxy nucleic acid) pada inti sel

Senyawa radikal bebas merupakan salah satu faktor penyebab kerusakan DNA di samping penyebab lain seperti virus, radiasi, dan zat kimia karsinogen. Bila kerusakan tidak terlalu parah, masih dapat diperbaiki oleh sistem perbaikan DNA. Namun, bila sudah menyebabkan rantai DNA terputus di berbagai tempat, kerusakan ini tidak dapat diperbaiki lagi sehingga pembelahan sel akan terganggu. Bahkan terjadi perubahan abnormal yang mengenai gen tertentu dalam tubuh yang dapat menimbulkan penyakit kanker.

Kerusakan membran sel

Komponen terpenting membran sel mengandung asam lemak tak jenuh ganda yang sangat rentan terhadap serangan radikal bebas. Kalau ini terserang struktur dan fungsi membran akan berubah yang dalam keadaan ekstrem akhirnya mematikan sel-sel pada jaringan tubuh.

Kerusakan protein

Terjadinya kerusakan protein akibat serangan radikal bebas ini termasuk oksidasi protein yang mengakibatkan kerusakan jaringan tempat protein itu berada. Contohnya kerusakan protein pada lensa mata yang mengakibatkan katarak.

Kerusakan lipid peroksida

Ini terjadi bila asam lemak tak jenuh terserang radikal bebas. Dalam tubuh kita, reaksi antarzat gizi tersebut dengan radikal bebas akan menghasilkan peroksidasi yang selanjutnya dapat menyebabkan kerusakan sel, yang dianggap salah satu penyebab terjadinya berbagai penyakit degeneratif (kemerosotan fungsi tubuh).

Proses ketuaan.

  • Umumnya, semua sel jaringan organ dapat menangkal serangan radikal bebas karena di dalamnya terdapat sejenis enzim khusus yang mampu melawan.

Namun, karena manusia secara alami mengalami degradasi seiring dengan peningkatan usia akibat radikal bebas itu sendiri, otomatis pemusnahannya tidak pernah mencapai 100% meski secara teori dapat dipunahkan oleh berbagai antioksidan. Belum lagi adanya rangsangan untuk membentuk radikal bebas yang berasal dari lingkungan sekitar. Karena itu, secara perlahan-lahan tapi pasti, terjadi kerusakan jaringan oleh radikal bebas yang tidak terpunahkan.

Kerusakan jaringan secara pelan ini merupakan proses terjadinya ketuaan, seperti kehilangan elastisitas jaringan kolagen dan otot sehingga kulit tampak keriput, terjadinya lipofuchsin atau bintik-bintik pigmen kecoklatan di kulit yang merupakan timbunan sisa pembakaran dalam sel. Yang ingin awet muda tentu perlu banyak mengkonsumsi zat gizi yang meminimalkan efek radikal bebas ini.

Dapat menimbulkan autoimun

Dalam keadaan normal, antibodi hanya terbentuk bila ada antigen yang masuk dalam tubuh. Autoimun adalah terbentuknya antibodi terhadap suatu sel tubuh biasa dan hal ini dapat merusak jaringan tubuh dan sangat berbahaya.

Antioksidan pelindung kesehatan

Tanpa disadari dalam tubuh kita secara terus-menerus terbentuk radikal bebas melalui peristiwa metabolisme sel normal, peradangan, kekurangan gizi dan akibat respons terhadap pengaruh dari luar tubuh: polusi lingkungan, ultraviolet, asap rokok, dll.

Sebab itu tubuh kita memerlukan suatu substansi penting yakni antioksidan yang dapat membantu melindungi tubuh dari serangan radikal bebas dengan meredam dampak negatif senyawa ini.

Sistem antioksidan tubuh sebagai mekanisme perlindungan terhadap serangan radikal bebas, secara alami telah ada dalam tubuh kita. Dari asal terbentuknya, antioksidan ini dibedakan menjadi dua yakni intraseluler (di dalam sel) dan ekstraseluler (di luar sel) atau pun dari makanan. Dari sini antioksidan tubuh bisa dikelompokkan menjadi 3 yakni:

Antioksidan primer

Antioksidan primer ini bekerja untuk mencegah pembentuk senyawa radikal bebas baru. Ia mengubah radikal bebas yang ada menjadi molekul yang berkurang dampak negatifnya, sebelum radikal bebas ini sempat bereaksi. Contoh antioksidan ini adalah enzim SOD yang berfungsi sebagai pelindung hancurnya sel-sel dalam tubuh serta mencegah proses peradangan karena radikal bebas. Enzim SOD sebenarnya sudah ada dalam tubuh kita. Namun bekerjanya membutuhkan bantuan zat-zat gizi mineral seperti mangan, seng, dan tembaga. Selenium (Se) juga berperan sebagai antioksidan. Jadi, jika ingin menghambat gejala dan penyakit degeneratif, mineral-mineral tersebut hendaknya tersedia cukup dalam makanan yang dikonsumsi setiap hari.

Antioksidan sekunder

Antioksidan ini berfungsi menangkap senyawa serta mencegah terjadinya reaksi berantai. Contoh antioksidan sekunder: vitamin E, vitamin C, beta karoten, asam urat, bilirubin, dan albumin.

Antioksidan tersier

Antioksidan jenis ini memperbaiki kerusakan sel-sel dan jaringan yang disebabkan radikal bebas. Contoh enzim yang memperbaiki DNA pada inti sel adalah metionin sulfoksidan reduktase. Adanya enzim-enzim perbaikan DNA ini berguna untuk mencegah penyakit kanker, misalnya.

Hasil berbagai penelitian dengan menggunakan hewan percobaan telah mendukung teori bahwa mengkonsumsi antioksidan yang memadai dapat mengurangi terjadinya berbagai penyakit seperti kanker, kardiovaskuler, katarak serta penyakit degeneratif lain.

Anggur merah vs jantung koroner

  • Lebih dari 200 penelitian secara epidemiologi menyatakan, diet makanan yang mengandung beta karoten dapat menurunkan risiko penyakit kanker.

Beta karoten konon mampu mecegah kerusakan sel normal dari sel ganas dengan cara meningkatkan keutuhan sel-sel normal dan mengusahakan agar sel-sel kanker tersebut bertindak sebagai sel normal.

Vitamin C juga berperan dalam menurunkan risiko kanker saluran pencernaan. Dikatakan pula adanya hubungan antara asupan vitamin E yang rendah dan risiko kanker payudara, paru-paru, tenggorokan, dan mulut.

Beberapa studi mengungkapkan peranan antioksidan untuk mencegah penyakit jantung. Oksidasi LDL (low density lipoprotein) menyebabkan kerusakan dinding pembuluh arteri yang berarti proses awal dari aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah arteri).

Pertahanan antioksidan secara alami dalam LDL kolesterol dengan jumlah yang cukup dapat melindungi LDL dari proses oksidasi tapi masih dipertanyakan apakah perlindungan ini terjamin pada setiap orang. Antioksidan alam terbanyak dalam LDL adalah vitamin E. Sehingga penambahan suplemen vitamin E dalam makanan dapat meningkatkan kandungan vitamin E dalam LDL serta meningkatkan perlindungan terhadap proses oksidasi. Beta karoten merupakan antioksidasi yang cukup kuat yang secara teoritis juga dapat melindungi oksidasi LDL.

Anggur merah telah terbukti dapat mencegah penyakit jantung koroner karena kandungan flavonoidnya. Sebagai contoh, Prancis, dibandingkan negara Eropa lain atau Amerika, jumlah penderita PJK-nya lebih kecil (dikenal dengan istilah the French paradox) karena suka sekali minuman anggur merah. Padahal konsumsi lemak mereka lebih besar, lebih banyak merokok dan kurang bergerak. Anggur merah memang mempunyai kandungan senyawa fenol lebih tinggi daripada anggur putih. Fenol ini mempunyai efek kardioprotektif (flavonoid) yakni antioksidan yang sangat kuat. Ia dapat mencegah oksidasi LDL 20x lebih kuat dari vitamin E.

Senyawa flavonoid ini telah terbukti secara in vitro mempunyai efek biologis yang sangat kuat sebagai antioksidan, menghambat penggumpalan keping-keping sel darah, merangsang produksi oksidasi nitrit yang dapat melebarkan (relaksasi) pembuluh darah dan juga menghambat pertumbuhan sel kanker.

Sayangnya, flavonoid pada anggur dan sayuran bentuknya kompleks sehingga sangat sulit dicerna dan diserap. Sedangkan pada saat fermentasi anggur merah, kompleks ini terurai sehingga mudah diserap tubuh. Ditambah lagi adanya alkohol (10%) dalam anggur membuat kandungan flavonoid stabil.

Berdasarkan penelitian, paparan senyawa radikal bebas, sinar ultraviolet, dan asap rokok dapat menyebabkan oksidasi protein pada lensa mata sehingga lama-kelamaan menimbulkan katarak. Penelitian epidemiologis menyatakan, katarak meningkat di negara-negara yang tinggi kebiasaan merokok serta paparan sinar mataharinya.

Asupan vitamin C dan E yang rendah pada diet makanan disertai kadar vitamin C yang rendah dalam darah, akan mempermudah seseorang terkena katarak (kekeruhan lensa mata). Apalagi ditambah dengan kebiasaan merokok.

Kasiat tempe dan ikan laut

  • Selain berbentuk zat gizi seperti vitamin C dan D, antioksidan dapat pula berupa zat non-gizi seperti pigmen (karoten, likopen, flavonoid, klorofil) dan enzim (glutation peroksida, koenzim, Q-10 atau ubiquinon).

Karoten banyak pada wortel, ubi rambat, semangka, bayam, kangkung, jeruk. Likopen pada tomat. Flavonoid pada wortel, jeruk, brokoli, kol, mentimun, bayam, tomat, merica dan terung.

Bila konsumsi mineral seperti seng, selenium, tembaga, vitamin E dan C serta beta karoten cukup, maka tidak diperlukan suplemen. Suplemen berupa pil, kapsul, dll hanya diberikan bila makanan berantioksidannya belum memenuhi angka kebutuhan gizi yang dianjurkan.

Dalam makanan sehari-hari antioksidan banyak terdapat dalam sayuran dan buah-buahan. Sedangkan tempe dan ikan laut dapat memusnahkan atau meminimalkan pembentukan radikal bebas.

Selama lebih dari setengah abad antioksidan telah dimanfaatkan dalam pengolahan pangan untuk menghambat kerusakan makanan. Biasanya antioksidan ini ditambahkan pada makanan yang mengandung lemak atau minyak, buah segar atau sayuran agar tidak cepat rusak. Senyawa ini juga dapat untuk mencegah perubahan warna dan rasa yang disebabkan oksigen di udara (pada apel, pisang yang mengandung enzim tertentu).

Selain pada bahan makanan, antioksidan seperti vitamin E juga sebagai suplemen diet untuk mengatasi proses oksidasi dalam tubuh. Belakangan malah antioksidan digunakan dalam produk kosmetik. *




Antioksidan, Radikal Bebas, dan Penuaan

Antioksidan, Radikal Bebas, dan Penuaan

BAGI Waljinah (57), penyanyi keroncong tembang Jawa, keriput mulai muncul masa usia tua bukanlah sesuatu perlu diresahkan. Kerut-kerut di kulitnya justru penanda kesemarakan hidup yang pernah dilaluinya. Tak heran, meski telah bercucu enam, nenek ini tetap berparas segar. "Resepnya, ya selalu gembira, nrimo ing pandum (penuh rasa syukur), dan mungkin karena sejak gadis rajin minum jamu," tutur Waljinah.

SEPERTI dimaknai Waljinah, menjadi tua adalah takdir, hukum alam yang tak dapat ditepis. Ketika kehidupan itu dimulai meski ia baru berupa noktah sel embrio, proses penuaan pun serta-merta berlangsung. Namun, kini para ahli dengan segala kecanggihan penemuannya berteori, proses takdir itu dapat diperlambat. Tersebutlah sebuah zat bernama antioksidan. Lalu, seberapa jauh sebenarnya peran si antioksidan itu?

Antioksidan merupakan zat yang anti terhadap zat lain yang bekerja sebagai oksidan. Zat lain itu populer disebut radikal bebas, yaitu suatu molekul oksigen dengan atom yang pada orbit terluarnya memiliki elektron yang tidak berpasangan. Karena kehilangan pasangannya itu, molekul lalu menjadi tidak stabil, liar, dan radikal.

"Akibatnya, ia selalu berusaha mencari pasangan elektron, tetapi dengan cara yang radikal, yaitu merebut elektron dari molekul lain tanpa pandang bulu. Makanya ia disebut radikal bebas atau reactive oxygen species (ROS)," kata ahli Biokimia Dr Mohamad Sadikin DSc dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Perbuatan si radikal bebas ini berakibat destruktif bagi molekul sel lain yang elektronnya dirampas. Parahnya, aksi perampasan elektron itu menimbulkan reaksi berantai sehingga radikal bebas terlahir semakin banyak. Radikal bebas merusak molekul makro pembentuk sel, yaitu protein, karbohidrat (polisakarida), lemak, dan deoxyribo nucleic acid (DNA).

Akibatnya, sel menjadi rusak, mati, atau bermutasi. Peristiwa itu menjadi salah satu penyebab berbagai penyakit degeneratif seperti kanker dan penuaan sel. Pada sel kulit, misalnya, radikal bebas akan merusak senyawa lemak pada membran sel. Lalu, kulit kehilangan ketegangannya (rigor) dan muncullah keriput.

Sadikin menjelaskan, peran jahat radikal bebas ini bukan berarti ia boleh dienyahkan. Sebab, akhirnya para ahli menemukan, radikal bebas dalam kadar tertentu justru diperlukan untuk pertahanan tubuh. Ketika kuman masuk ke dalam tubuh, sel darah putih (lekosit) akan menghancurkan dan memakan kuman dengan bantuan si radikal bebas.

"Seperti filosofi Yin dan Yang. Dalam keburukan si radikal bebas, ada setitik kebaikan yang sangat esensial," kata Sadikin. Masih berprinsip pada keseimbangan Yin dan Yang, keseimbangan komposisi antara radikal bebas dan antioksidan mutlak diperlukan di dalam tubuh.

Bagaimana bisa muncul radikal bebas ini? Radikal bebas muncul sebagai konsekuensi dari adanya kehidupan itu sendiri. Setiap makhluk hidup perlu energi untuk bertahan hidup. Makhluk hidup, termasuk manusia, akan selalu memproduksi radikal bebas sebagai produk samping dari proses pembentukan energi.

Energi itu diperoleh dari proses metabolisme dengan mengoksidasi (membakar) zat-zat makanan, seperti karbohidrat, lemak, dan protein. Zat-zat itu akan dikonversi menjadi senyawa pengikat energi atau Adenosin Triphospat (ATP) melalui proses metabolisme dengan bantuan oksigen. Dalam proses oksidasi itulah radikal bebas (ROS), yaitu anion superoksida dan hidroksil radikal turut terproduksi.

Selain lahir dari proses metabolisme, radikal bebas juga muncul pada setiap kejadian pembakaran, misalnya merokok, memasak, juga aktivitas pembakaran bahan bakar pada mesin dan kendaraan bermotor. Ketika sinar ultraviolet menerpa suatu benda terus-menerus, elektron atom benda tersebut akan meloncat dari orbitnya, dan terciptalah radikal bebas.

Singkatnya, radikal bebas akan selalu bertebaran di mana-mana. Api adalah radikal bebas yang dapat dilihat dengan mata. Layaknya radikal bebas, sifat api pun sangat reaktif dan sulit dikendalikan jika merajalela.

Supaya radikal bebas tidak merajalela, tubuh dengan sendirinya spontan memproduksi zat antioksidannya. Antioksidan yang diproduksi dari dalam tubuh (endogen) berupa tiga enzim yaitu, superoksida dismutase (SOD), glutation peroksidase (GSH Px), katalase, serta non enzim, yaitu senyawa protein kecil glutation.

Ketiga enzim dan senyawa glutation itu bekerja menetralkan radikal bebas. Pekerjaannya itu dibantu oleh asupan antioksidan dari luar (eksogen) yang berasal dari bahan makanan. Misalnya, vitamin E, C, betakaroten dan senyawa flavonoid yang diperoleh dari tumbuhan.

Ahli gizi dari Pusat Kajian Gizi Fakultas Kedokteran UI dr Victor Tambunan MS menjelaskan, dalam proses melumpuhkan radikal bebas, peran antioksidan eksogen sangat sistematis. Pertama-tama vitamin E akan menangkap (scavenging) radikal bebas. Malangnya, vitamin E itu lalu berubah menjadi vitamin E radikal sehingga perlu pertolongan vitamin C.

Apa boleh buat, setelah menangkap vitamin E radikal, si vitamin C malah ikut menjadi vitamin C radikal juga. Akhirnya, barulah glutation yang mampu menetralkan vitamin C radikal menjadi senyawa yang lebih kalem tanpa menjadikan dirinya turut radikal.

LALU, perlukah kita menambah suplemen antioksidan untuk mengatasi keliaran si radikal bebas? Jawaban akhirnya akan normatif. Suplemen antioksidan yang populer di pasaran, yaitu vitamin C, E, dan betakaroten. Namun, fakta perlu diketahui, hingga saat ini para ahli masih sulit memastikan berapa komposisi yang seimbang antara radikal bebas dan antioksidan di dalam tubuh.

Dengan demikian, otomatis dosis suplemen antioksidan yang tepat juga belum dapat dipastikan. Sementara beberapa studi menunjukkan, kelebihan antioksidan justru merugikan hingga membahayakan

Tambunan menjelaskan, selama asupan makanan cukup baik dan menjauhi pola hidup tak sehat, suplemen makanan seperti multivitamin sama sekali tidak dibutuhkan. Suplemen dibutuhkan hanya ketika seseorang menderita luka bakar serius, infeksi yang luas, aktivitas fisik berat, atau stres yang hebat.

Orang yang merokok atau, pekerjaannya harus diterpa polusi dan sinar matahari terus- menerus, seperti polisi lalu lintas, juga memerlukan suplemen tersebut. Asumsinya, asupan makanan yang bervitamin antioksidan tidak cukup dibandingkan terpaan radikal bebas. Dengan demikian, tubuh orang itu dalam kondisi stres oksidatif atau komposisi radikal bebasnya lebih banyak.

Menurut Tambunan, suplemen yang paling utama dibutuhkan orang-orang tersebut adalah vitamin C dengan dosis antara 100-500 miligram per hari. Soal dosis memang masih kontroversi. Sebab, jika vitamin C yang diasup ternyata berlebihan bagi tubuh, vitamin C tersebut justru menjadi vitamin C radikal yang sifatnya sama dengan radikal bebas. Glutation tidak lagi sempat menetralkannya karena jumlahnya yang berlebihan. Memang, sebagian yang berlebih itu dapat larut bersama urine, tetapi potensi radikal tetap ada.

Hal yang sama berlaku pada vitamin E, yang jika berlebihan dapat menjadi vitamin E radikal. Ada pula teori yang mengatakan, kelebihan vitamin E dapat mengganggu proses pembekuan darah jika terjadi luka. Selain itu, vitamin E akan terakumulasi di jaringan tubuh yang mengandung lemak seperti liver dan berpotensi meracuni liver.

Tambunan menuturkan, suatu penelitian antioksidan di Amerika Serikat dilakukan pada orang-orang yang merokok dan sekaligus menderita kanker paru. Sebagian dari mereka diberi suplemen betakaroten dosis tinggi, sebagian yang lain diberi plasebo (pil kosong). Dugaan awal, kelompok yang diberi betakaroten sel kankernya dapat terkendali. Yang terjadi cukup mengejutkan, kelompok yang diberi betakaroten justru menunjukkan perkembangan sel kanker. "Pemberian betakaroten itu lantas segera dihentikan," tutur Tambunan.

Selama ini di pasaran suplemen vitamin E dan C umumnya dijual dalam dosis relatif tinggi per tabletnya, bahkan beberapa merek vitamin C berdosis hingga 1.000 mg per tablet. Padahal, menurut Tambunan, kecukupan gizi vitamin C per hari hanya 60 mg. Untuk vitamin E, cukup 8-10 IU per hari. Tambunan menambahkan, kadar tersebut cukup terpenuhi dari bahan makanan sehari-hari. Vitamin C, misalnya, banyak terkandung dalam jambu klutuk, jeruk, atau kiwi. Vitamin E bisa diperoleh dari sayur-sayuran seperti kecambah, kedelai, atau kuning telur.

Dengan demikian, orang di luar kondisi yang berpotensi stres oksidatif praktis tidak dianjurkan mengonsumsi suplemen antioksidan. Sebaliknya, sangat dianjurkan berusaha mengonsumsi makanan cukup gizi, sebab asupan antioksidan dari makanan sangat kecil risiko berlebihan. Memang klasik, tetapi empat sehat lima sempurna memang jawabannya.

Tambunan menyarankan, konsumen harus pandai mengukur kondisi fisiknya sendiri. Suplemen baru dianjurkan ketika tubuh mendapat beban fisik yang cukup berat, atau terpaksa berada di kondisi yang sangat terpolusi. Artinya, mengonsumsi suplemen tidak dianjurkan setiap hari, melainkan tergantung pada kondisi yang dihadapi seseorang.

PENYANYI keroncong Waljinah pun rupanya cukup bijak dalam mengonsumsi suplemen vitamin. Ketika harus menembang hingga dini hari pada pagelaran wayang kulit, barulah dia meminum vitamin C setelah menyantap makan malamnya. "Kalau tiap hari, saya lebih memilih minum wedang jahe dan kencur saja sudah cukup. Namanya wanita Jawa, ya minum jamu," kata Waljinah.

Baik Tambunan maupun Sadikin mengingatkan, suplemen makanan seperti multivitamin dan mineral sama sekali bukan sumber energi seperti yang ditonjolkan oleh berbagai iklan. "Itu pembodohan massa. Sumber energi hanyalah karbohidrat, protein, dan lemak. Vitamin dan mineral hanya semacam oli pelincir pada mobil. Ia melancarkan proses pembentukan energi," papar Sadikin.

Oleh karena itu, Tambunan menegaskan, mengonsumsi multivitamin dan mineral dalam dosis tinggi tanpa makanan yang baik merupakan kemubaziran dan justru dapat membahayakan. Glutation, sebagai antioksidan endogen, eksistensinya di dalam tubuh sangat tergantung pada asupan zat-zat makanan, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak. Tanpa glutation, proses penyeimbangan radikal bebas di dalam tubuh bisa kacau-balau.

Selama ini suplemen antioksidan sering kali mengklaim bahwa antioksidan adalah senjata ampuh menghambat kerja radikal bebas yang menyebabkan penuaan sel, salah satunya sel kulit.

Padahal, menurut ahli kulit sekaligus Ketua Studi Dermatologi dan Kosmetika Indonesia dr Sjarif M Wasitaatmadja Sp KK, penuaan tidak hanya disebabkan oleh aktivitas radikal bebas. Faktor lain yang berpengaruh adalah faktor genetika, usia, dan gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok, minum alkohol, dan kurang istirahat.

Sjarif menjelaskan, berhubung dosis suplemen vitamin antioksidan secara oral masih kontroversi, pemberian vitamin antioksidan lebih aman secara topikal (pengolesan di kulit) yang berdosis cukup rendah. Terapi itu hanya dapat menghambat penuaan dini akibat radikal bebas yang dihasilkan dari polusi. Sementara faktor lain penyebab penuaan, seperti genetik dan usia, tidak dapat dicegah. Penuaan tetaplah takdir.

Sjarif menegaskan, mengatasi penuaan dini bukanlah dengan merekomendasikan suplemen antioksidan. Namun, menganjurkan supaya seseorang hidup sehat dan menjauhi stres. Sebab, stres itu sendiri memicu produksi hormon-hormon tertentu seperti adrenalin, yang jika berlebih dapat merugikan. Selain itu, kondisi stres juga akan memicu munculnya senyawa fitokin berlebihan yang dapat merusak sel.

"Jangan mencari pembenaran, oke kamu boleh ngerokok, nih saya beri antioksidan. Tapi, hey stoplah merokok, makan yang sehat kalau mau awet muda. Jangan stres, nikmatilah menjadi tua," ujar Sjarif.

Boleh jadi nasihat Waljinah memang tepat. Resep awet muda justru dimulai dari pikiran yang positif dan hati yang riang. Jadi, keriput? Siapa takut!(B14)

Search :






















Waspadai Bahan Kimia Pemicu Kanker Payudara

Waspadai Bahan Kimia Pemicu Kanker Payudara

Waspadai Bahan Kimia Pemicu Kanker Payudara

Jakarta - Penggunaan bahan kimia berlebihan terbukti mempertinggi risiko terkena kanker payudara. Tidak main-main, bahan kimia ini justru biasa kita jumpai pada kehidupan sehari-hari. Sebut saja bahan pembersih, tekstil dan plastik yang justru memicu pertumbuhan kanker payudara, demikian berdasarkan studi ilmuwan asal Texas dan California Selatan baru-baru ini.Kanker payudara yang menjadi momok mengerikan kaum Hawa sejauh ini dikenal sebagai salah satu penyakit yang bisa muncul karena ada hubungan keluarga. Tidak sepenuhnya benar ternyata. Serangkaian penelitian terkini menyebut faktor makanan dan lingkungan juga sangat berperan. Teori ini kian diperkuat lagi dengan temuan anyar ilmuwan bahwa ada sejumlah bahan kimia berbahaya di sekitar kita yang memicu tumbuhnya kanker payudara.Dalam edisi terbaru Journal of Applied Toxicology dilaporkan bahan kimia bernama 4-nonylphenol merupakan bahan berbahaya yang mampu memicu kanker payudara pada sejumlah tikus. Namun eksperimen laboratorium ini masih membutuhkan studi lanjut terhadap manusia. Sebab apa yang terjadi pada tikus belum tentu bisa terjadi pula pada manusia. Untuk itu masyarakat diharap tidak langsung panik.Dr William Baldwin beserta timnya dari University of Texas at El Paso dan Clemson University di Carolina Selatan menemukan bahwa 4-nonylphenol (4-NP) mempengaruhi kinerja hormon estrogen pada sejumlah tikus. Dengan diberi asupan 4-NP dalam berbagai dosis, maka tubuh tikus-tikus betina tersebut mengalami pertumbuhan kanker payudara. Mayoritas kanker payudara berkembang dalam tempo 32 minggu. Setelah dianalisis ternyata bahan kimia ini menstimulasi produksi hormon estriol pada lever.Produksi estriol yang meningkat membuat jaringan kanker tumbuh secara kompleks pada tikus betina. “Ekspos bahan kimia 4-NP dalam jangka waktu panjang dipastikan akan memicu kanker payudara,” jelas Dr.Baldwin seperti yang dikutip BBCNews Online baru-baru ini.Bahan kimia 4-NP yang diduga berbahaya ini terkandung dalam cat, pestisida dan produk pembersih yang cukup akrab dengan aktivitas manusia sehari-hari. Sejauh ini pihak Department for Environment, Food and Rural Affairs Inggris telah menetapkan bahan kimia seperti nonylphenol dan bisphenol sebagai bahan kimia beracun yang mampu mempengaruhi kinerja hormon.Sedangkan hormon estrogen dan estriol memang sudah sejak lama diketahui terkait erat dengan kanker payudara. Estrogen selama ini dikenal sebagai hormon penerima atau reseptor pada payudara yang dengan mudah ditumbuhi kanker. Makin tinggi kinerja hormon ini, makin cepat pula perkembangan kanker.Nonylphenol merupakan komponen organik yang merupakan produk sintetis atau buatan. Bahan kimia ini dihasilkan dari proses alkasi. Bahan yang sudah lama dikategorikan sebagai racun ini masih tetap dibutuhkan dalam pelbagai produk pembersih seperti detergen rumah tangga. Penggunaannya memang dibatasi dalam standar tertentu yang menjaga kesehatan manusia. Namun studi terbaru ini membuktikan bahwa kita perlu tetap waspada terhadap penggunaan bahan kimia berlebihan. (mer)



Copyright © Sinar Harapan 2003




Bahan Tambahan Makanan (BTM) Antara Kepuasan dan Kesehatan

Bahan Tambahan Makanan (BTM)
Antara Kepuasan dan Kesehatan


Tahu kah anda!
Salah satu pemicu penyebab Kanker,
Jantung, Strok dan penyakit abad modern ini, adalah BTM

Tahu kah anda!
Hampir Semua Makanan/Minuman
Hasil Olahan Pabrik Mengandung BTM.

Diperkirakan organ pencernaan manusia semasa hidupnya mengolah makanan sebanyak 100 ton (100.000kg). Jumlah tersebut tidak semuanya merupakan zat-zat yang bermanfaat bagi tubuh akan tetapi juga ikut serta zat-zat berbahaya terutama Food Additive atau Bahan Tambahan Makanan (BTM).
BTM adalah semua yang bukan bagian dari bahan makanan yang diolah seperti pemanis, penyedap rasa dan aroma, penguat rasa, pewarna, pengawet, pengental/pengemulsi, anti bakteri, pemutih, pengeras, pengatur keasaman dan lainnya. Saat ini hampir semua jenis makanan dan minuman yang diproses dari pabrik dan juga yang tersedia di restoran-restoran menggunakan BTM untuk meningkatkan kepuasan konsumen.

Beberapa contoh BTM yang oleh riset dinyatakan berpeluang menyebabkan kanker, tumor atau penyakit lainnya:

NO Bahan Tambahan
Makanan
Pemakaiaan
(Contoh)
Dampak
(Jika Berlebihan/Pemakaian Jangka Panjang)
1 Sakarin Soft Drink, Permen, makan ringan lainnya Tumor kantong Kemih, beracun bagi janin, kanker
2 Siklamat Minuman beralkohol Tumor
3 Nitrit/Nitrat Makanan kalengan Kanker
4 Sulfit Jus Buah, sosis, acar Sesak nafas, Sesak dada, gatal-gatal dan bengkak
5 BHA/BHT Makanan Awetan Kelainan Kromosom Sel, menurunkan antioksidan alami tubuh.
6 Benzoat Minuman, Makanan Pembesaran ginjal dan hati, menurunkan berat badan
7 Sulfit Makanan Kalengan Menurunkan daya guna protein dan Lemak
8 Pewarna Merah/Amaranth Makanan, Minuman kanker

Meskipun dosis penggunaan setiap BTM ditetapkan pada kadar aman bagi manusia, namun kelebihan dosis dapat terjadi karena konsumsi makanan hasil olahan pabrik setiap harinya sangat beragam. Kelebihan dosis dan perbedaan daya tahan tubuh menentukan tingkat dampak negatif BTM bagi kesehatan. Meninggalkan makanan/minuman hasil olahan pabrik atau sajian restoran tentu tidak mungkin dilakukan, oleh karena itu mengurangi frekuensi mengkonsumsi makanan yang mengandung BTM, menjaga kesehatan organ pencernaan dengan mengkonsumsi serat yang cukup serta makanan bersifat prebiotik dapat mengurangi tertinggalnya zat-zat berbahaya dari makanan dalam tubuh.
Selain upaya tersebut, perlu mengimbangi zat-zat berbahaya tersebut dengan perlindungan alami seperti bahan-bahan antioksidan. Bahan-bahan antioksidan tersedia banyak pada sayur-sayuran, buah dan biji-bijian. Contoh antioksidan pada bahan makanan adalah vitamin E, Tokoferol, Asam Ascorbat, Flavonoid dan lain-lain. Namun Antioksidan dalam bahan alami terikat sangat kuat dengan senyawa lain yang sangat sulit dipisahkan oleh proses pencernaan sehingga efisiensinya kurang dalam tubuh.
Saat ini senyawa-senyawa antioksidan sudah dibuat dalam bentuk produk suplemen. Berdasarkan riset direkomendasikan kriteria dalam memilih produk antioksidan tersebut yaitu:

  • Pastikan bahwa antioksidan yang dipilih bukan dari bahan sintesis tetapi 100% alami yang mengandung multiantioksidan.
  • Mengandung banyak jenis Antioksidan (multi AO)
  • Merupakan antioksidan analog (AOA) dengan berat molekul rendah yang bekerja seaktif antioksidan (AO) molekul tinggi (AO enzimatik alami dalam tubuh)
  • Dalam bentuk terlipolisasi/emulsifikasi dengan lemak tak jenuh, yang mudah diserap pada tingkat sel.
  • Mampu memperbaiki induksi SOD alami tubuh.

Kriteria antioksidan tersebut dapat ditemukan pada Niwana SOD . Produk antioksidan yang merupakan hasil riset bertahun-tahun oleh Prof. Yuki Niwa (seorang pakar antioksidan terkenal).





Kala Radikal Bebas Gempur Tubuh

======================================================================
Kala Radikal Bebas Gempur Tubuh
Oleh trubus lihat berita aslinya disini
Selasa, 10 Juli 2007 10:35:45 Klik: 157 Kirim-kirim Print version

Di usianya yang ke-79, kini Surita Sutiaty benar-benar menikmati hari tua. Hari-harinya ia habiskan dengan berkumpul bersama anak dan cucu di Jakarta. Delapan belas tahun silam, jangankan bepergian ke ibukota yang terletak ribuan kilometer dari kampung halamannya di Medan, Sumatera Utara. Setiap hari ia hanya merebahkan diri di pembaringan.



Derita itu Surita alami sejak divonis diabetes mellitus oleh dokter salah satu rumahsakit di Medan. Hasil diagnosis menunjukkan, kadar gula darah melambung hingga 500 mg/dl, normal 70-110 mg/dl. Tingginya kadar gula darah menyebabkan Surita pingsan. Oleh sebab itu, dokter menyarankan agar ia dirawat inap.

Dua pekan lamanya Surita dirawat di rumahsakit. Selama perawatan, ibu 3 anak itu memperoleh pengawasan ketat. Ia mesti menjalani diet untuk mengontrol kadar gula darah. Setiap menjelang tidur, perawat menyuntikkan 12 unit insulin ke bagian kanan pinggang Surita. Tujuannya untuk mengontrol kadar gula dalam darah. Sayangnya faedah insulin hanya bertahan 24 jam. Artinya, agar kadar gula darah tetap terkontrol, Surita mesti disuntik ulang setiap hari. Sejak itulah Surita menggantungkan hidup pada seujung jarum.

Tergantung insulin

Lebih dari satu setengah dekade Surita menjalani hidup dengan diabetes mellitus. Selama itu pula insulin menjadi bagian hidupnya. Ia hanya bisa pasrah. 'Saya sadar keadaan saya tidak dapat disembuhkan. Tetapi saya berharap kondisi kesehatan saya tidak memburuk,' ujarnya. Oleh sebab itu, ia rutin memeriksa darah setiap pekan untuk mengontrol kadar gula.

Harapan kesembuhan datang ketika salah seorang rekan menjumpai Surita pada pertengahan 2005. Ia menawarkan suplemen yang mengandung enzim mirip superoksid dismutase (SOD), salah satu enzim antioksidan yang berperan menangkal radikal bebas dalam tubuh. Suplemen itu dikonsumsi 3 kali sehari masing-masing 2 sachet isi 3 g.

Dua bulan berselang, kondisi tubuh Surita mulai membaik. Kadar gula darah mulai menurun pada kisaran 148-154 mg/dl. Ia pun mengurangi dosis insulin yang semula 12 unit per hari menjadi 10 unit. Bulan berikutnya berkurang menjadi 8 unit per hari. Setelah 5 bulan mengkonsumsi, Surita hanya menggunakan 6 unit setiap harinya.

Lantaran merasa kondisi tubuhnya kian membaik, Surita mengurangi konsumsi SOD like processed dietary food-sebutan suplemen itu-menjadi 3 kali sehari masing-masing 1 sachet per hari. Sejak 6 bulan silam, Surita berhenti menyuntik insulin karena kadar gula darah stabil di angka 150 mg/dl.

Kanker

Faedah SOD tak hanya dirasakan Surita. Nun di Yogyakarta, dr Andu Sufyan merasakan khasiat antioksidan itu. Tumor berdiameter 1 cm di lengan kirinya hilang setelah 5 pekan mengkonsumsi SOD.

Tumor di lengan kiri dr Andu mulanya berupa bintil hitam berdiameter sekitar 3 mm. Ia menduga bintil itu hanyalah tahi lalat. Namun, 2 bulan berselang, bintil membesar hingga berdiameter 1 cm dan berair. Sebagai dokter ia tahu betul pembesaran bintil itu gejala melanoma malignant atau kanker kulit.

Salah satu cara untuk mengobatinya yaitu dengan radiasi. Lantaran khawatir berefek buruk, dr Andu enggan memilih cara pengobatan itu. 'Radiasi dapat berefek lemas, pusing, dan mual,' ujarnya. Namun, bila dibiarkan, ia cemas kanker itu bermetastesis atau menyebar dan menyerang organ tubuh lain.

Di tengah kecemasannya Andu teringat seseorang yang memperkenalkan SOD. Beruntung Andu menyimpan nomor telepon kenalannya itu. Meski sempat ragu, ia akhirnya memesan SOD. Suplemen kesehatan itu dikonsumsi 2 kali sehari: pagi ketika bangun tidur dan malam sebelum tidur. Dosis masing-masing 1 sachet isi 3 g.

Baru sepekan mengkonsumsi, bintil yang semula berair mengering dan mengelupas. Empat pekan kemudian bintil itu benar-benar hilang tanpa bekas. Namun, ia tetap mengkonsumsi SOD minimal 1 sachet per hari untuk mencegah sel kanker kembali menyerang.

Keampuhan SOD mengatasi kanker juga dirasakan Rahmat Hidayat di Padang, Sumatera Barat. Pada September 2006, pria 18 tahun itu divonis mengidap kanker sel darah putih alias leukemia. Sel kanker itu terus-menerus menggerogoti tubuhnya hingga menyebabkan koma. Rahmat pun diboyong ke RS Dharmais, Jakarta Barat. Hasil pemeriksaan menunjukkan, kadar leukosit mencapai 12.400/µl, normal 5.000-10.000/µl. Dokter menyarankan agar Rahmat menjalani kemoterapi.

Namun, kemoterapi justru membuat kondisi tubuh Rahmat makin memburuk. Bobot tubuh yang semula mencapai 60 kg, anjlok menjadi 36 kg. 'Rambut saya juga rontok,' katanya. Pada saat itulah salah seorang anggota keluarga menawarkan suplemen SOD.

SOD dikonsumsi berdampingan dengan kemoterapi berdosis 3 kali sehari masing-masing 1 sachet. Suplemen dikonsumsi sejam setelah mengkonsumsi obat-obatan terapi agar efek masing-masing tidak saling menetralkan. Dua pekan mengkonsumsi, kondisi tubuh Rahmat mulai membaik. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan, kadar leukosit kembali normal, 7.300/µl. Bahkan, tiga bulan berselang, efek buruk kemoterapi benar-benar sirna. Tubuh yang semula hanya tulang berbalut kulit itu mulai pulih. Dengan tinggi tubuh 155 cm, kini bobotnya mencapai 55 kg. 'Rambut saya juga tidak rontok lagi,' ujarnya.

Radikal bebas

Diabetes dan kanker salah satu dari sekian banyak penyakit akibat gempuran radikal bebas. Radikal bebas merupakan molekul oksigen yang memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan sehingga sangat reaktif. Menurut Yukie Niwa MD PhD, ahli immunologi di Jepang, dalam bukunya Free Radicals Invite Death, sifat radikal bebas yang mudah bereaksi sebetulnya diperlukan tubuh untuk mengikat benda asing seperti bakteri, lalu menghancurkannya.

Kadar radikal bebas dalam tubuh terus meningkat seiring bertambahnya jumlah radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh. Polusi udara dan rokok salah satu sumber utama zat berbahaya itu. Ketika jumlahnya melebihi kebutuhan tubuh, radikal bebas tak hanya menyerang bakteri dan benda asing lainnya, tetapi juga merusak sel-sel tubuh. Salah satunya sel pankreas sehingga menyebabkan produksi insulin terhambat. Akibatnya, kadar gula darah melambung. Radikal bebas juga menyebabkan kelainan pada sel-sel tubuh sehingga sel berkembang tak terkendali dan muncullah tumor dan kanker.

Tatkala radikal bebas merajalela di dalam tubuh, sejumlah enzim seperti superoksid dismutase (SOD), katalase, dan glutathione peroxidase (GSH-Px), bahu-membahu menghalau perusak sel tubuh. Sayang, jumlah ketiga enzim itu terus berkurang seiring bertambahnya usia. Sedangkan radikal bebas terus-menerus menumpuk di dalam tubuh. Saat itulah tubuh memerlukan antioksidan. Antioksidan menyumbang elektron agar berpasangan dengan radikal bebas sehingga tak lagi mengancam sel-sel jaringan tubuh.

Menurut Niwa, tak semua antioksidan dapat diserap tubuh. Salah satunya jenis-jenis antioksidan yang berbobot molekul rendah seperti vitamin A dan E. Meski keduanya mudah dicerna, reseptor sel pada jaringan tubuh adakalanya tak mengenali antioksidan itu.

Pasalnya, kedua vitamin itu tidak diselimuti lemak sehingga tidak dapat menembus membran lemak pada dinding sel. Akibatnya, jumlah antioksidan yang diserap sangat minim, 20-30% dari total konsumsi. Apalagi bila antioksidan masih terikat dengan senyawa kompleks dalam buah atau sayuran segar. Tubuh mesti bekerja keras memilah-milah hingga akhirnya antioksidan terurai lalu dicerna.

Induksi insulin

Dr Ir M. Ahkam Subroto, MAppSc, peneliti utama Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi LIPI, menuturkan, konsumsi vitamin A dan E akan lebih efektif bila dikonsumsi bersama lemak. 'Oleh sebab itu, konsumsi lemak sebetulnya diperlukan tubuh. Asalkan tidak terlalu berlebihan. Maksimal 2% per hari,' ujarnya.

Permasalahan itulah yang mendorong Niwa untuk meneliti teknologi yang dapat menghasilkan senyawa serupa antioksidan seperti superoksid dismutase (SOD). Setelah melewati penelitian panjang selama lebih dari 15 tahun, mimpi Niwa akhirnya terwujud. Ia berhasil menemukan ramuan berbahan alami yang aktivitas senyawanya mirip SOD dalam tubuh. Senyawa itu diperoleh dari bahan alami seperti kedelai, wijen, gandum, kulit beras, teh hijau, jeruk yuzu, dan jamur koji.

Seluruh bahan dipanaskan dengan sinar infra merah untuk memutus rantai antioksidan yang berikatan dengan elemen lain. Bahan-bahan itu kemudian difermentasi dengan jamur koji Aspergillus oryzae untuk mengaktifkan komponen antioksidan. Tahapan terakhir, antioksidan dilapisi minyak wijen. Tujuannya untuk merekayasa molekul antioksidan agar mirip dengan lemak pada membran sel sehingga mudah diserap sel.

Lalu, bagaimana cara kerja SOD mengatasi kanker dan diabetes? Menurut Ahkam, sifat antioksidan seperti SOD tidak langsung mematikan sel kanker. SOD berfaedah memperbaiki metabolisme tubuh sehingga menciptakan lingkungan yang tidak nyaman bagi pertumbuhan sel kanker. Akibatnya, pertumbuhan sel kanker terhenti dan akhirnya mati.

Bagi penderita diabetes, SOD berperan menginduksi insulin sehingga produksinya lebih banyak. SOD juga berfaedah mendongkrak aktivitas insulin menangkap gula sehingga tidak menumpuk di dalam darah. Oleh sebab itulah Surita tetap menjalankan pola hidup sehat agar gula darah tak lagi melambung. (Imam Wiguna/Peliput: Kiki Rizkika)











































































Statistik




Tracked by Histats.com

















Klik: 1058 Kirim-kirim Print version



Saturday, July 28, 2007

Artikel & Tips Kesehatan

ENGAPA PERLU DETOKS?

Dikutip dari tulisan Ibu Andang Gunawan, ADN, ND (Majalah NIRMALA Mei
2004)

Anda punya masalah sembelit, demam, flu, kelebihan berat badan, selulit,
kadar kolesterol darah berlebihan, lesu kronis, penyakit/gangguan kulit,
sindrom pramenstruasi, kehilangan gairah seks, penuaan dini, tumor,
penyakit-penyakit degeneratif (hipertensi, stroke, penyakit jantung
koroner, diabetes, kadar usam urat berlebihan, dll.), serta
penyakit-penyakit infeksi yang tak kunjung sembuh? Tahukah Anda bahwa
akar dari masalah-masalah tersebut adalah karena adanya timbunan ampas
tubuh Anda? [baca selengkapnya]


Kala Radikal Bebas Gempur Tubuh
Oleh trubus lihat berita aslinya disini
Selasa, 10 Juli 2007 10:35:45 Klik: 157 Kirim-kirim Print version

Di usianya yang ke-79, kini Surita Sutiaty benar-benar menikmati hari tua. Hari-harinya ia habiskan dengan berkumpul bersama anak dan cucu di Jakarta. Delapan belas tahun silam, jangankan bepergian ke ibukota yang terletak ribuan kilometer dari kampung halamannya di Medan, Sumatera Utara. Setiap hari ia hanya merebahkan diri di pembaringan....[baca selengkapnya]

Ragam Harapan Pendamba Kesehatan
Oleh trubus
Kamis, 15 Februari 2007 16:38:50 Klik: 1058 Kirim-kirim Print version

Hasratnya hidup abadi. Untuk mewujudkan impian itu Kaisar Shih Huang Ti (259-210 SM), pendiri tembok besar cina, berburu ling zhi di hutan-hutan. Jamur ajaib itu memang melegenda karena digunakan untuk pengobatan sejak zaman kaisar Shen Nung (2737 SM). Legenda itu terbukti abadi. Hingga kini khasiat ling zhi tetap diburu. Namun, tak perlu mencari ke hutan-hutan, cukup di toko-toko obat.

Suplemen tak hanya berperan menyembuhkan penyakit. Beberapa suplemen berfaedah sebagai sumber nutrisi lengkap. Salah satunya adalah OGF (Organic Green Food). Suplemen yang diramu Prof Dr Robert I Lin PhD, CNS, FICN, pakar fitofarmaka University of California, Los Angeles, Amerika Serikat, itu terbuat dari ekstrak puluhan jenis sayuran dan buah-buahan seperti brokoli, bayam, wortel, jeruk, nanas, stroberi, dan apel.

Suplemen itu juga dilengkapi aneka herbal seperti barley grass. Rerumputan hijau itu kaya antioksidan dan klorofil yang dapat membantu pembentukan sel darah merah. Herbal lain: spirulina, ling zhi, echinacea, chlorella, dan teh. Faedah OGF itu ibarat pepatah, sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Sekali saja mengkonsumsi, nutrisi terpenuhi dan penyakit pun pergi. [baca selengkapnya]



Ingin LANGSING sekaligus DETOKS ? Kenapa Tidak?

Kelebihan berat badan/kegemukan menjadi momok bagi semua orang, apalagi dengan semakin banyaknya riset medis yang menyatakan gemuk pemicu berbagai penyakit degeneratif mematikan. Tak heran bila banyak yang melakukan berbagai cara untuk mendapatkan ataupun mempertahankan bobot tubuh yang ideal, sekalipun dengan cara yang amat tidak nyaman. Kalaupun ada yang berhasil umumnya hanya bersifat sementara, setelah putus dengan program atau obat yang digunakan berat badan melambung kembali bahkan melebihi berat badan awal sebelum menjalani program atau yang lebih dikenal dengan syndrome YoYo... [ baca selengkapnya]


Tips Kesehatan

SERAT yang SALAH KAPRAH

Mungkin hampir 100% orang tahu bahwa makanan berserat itu sangat baik dan dianjurkan, sebagai dampak positif gembar gembor iklan minuman/makanan berserat. Tapi iseng coba tanyakan kepada beberapa orang, apakah daging ayam atau daging sapi mengandung serat? Dari 10 orang yang anda tanya sangat mungkin 6-8 orang akan meng-IYA-kan. Padahal serat yang dimaksud bukan seperti yang kasat mata terlihat. Ingat, serat hanya ada dalam pangan nabati, tidak satupun pangan hewani yang mengandung serat.[baca selengkapnya]


Bahan Tambahan Makanan (BTM)

Antara Kepuasan dan Kesehatan


Tahu kah anda!
Salah satu pemicu penyebab Kanker,
Jantung, Strok dan penyakit abad modern ini, adalah BTM

Tahu kah anda!
Hampir Semua Makanan/Minuman
Hasil Olahan Pabrik Mengandung BTM.

Diperkirakan organ pencernaan manusia semasa hidupnya mengolah makanan sebanyak 100 ton (100.000kg). Jumlah tersebut tidak semuanya merupakan zat-zat yang bermanfaat bagi tubuh akan tetapi juga ikut serta zat-zat berbahaya terutama Food Additive atau Bahan Tambahan Makanan (BTM). [baca selengkapnya]




































Waspadai Bahan Kimia Pemicu Kanker Payudara

Waspadai Bahan Kimia Pemicu Kanker Payudara

Jakarta - Penggunaan bahan kimia berlebihan terbukti mempertinggi risiko terkena kanker payudara. Tidak main-main, bahan kimia ini justru biasa kita jumpai pada kehidupan sehari-hari. Sebut saja bahan pembersih, tekstil dan plastik yang justru memicu pertumbuhan kanker payudara, demikian berdasarkan studi ilmuwan asal Texas dan California Selatan baru-baru ini... [baca selengkapnya]

Hati-hati Lahap Obat Pengurang Sakit

.Secara detail, studi itu menyebut, perempuan usia 51-77 tahun yang menggunakan ibuprofen 400 mg perhari memiliki risiko 80 persen menderita hipertensi dibanding yang tidak mengonsumsi obat ini. Sedangkan perempuan dalam usia lebih muda [baca selengkapnya]



Minggu, 27 Juni 1999

Rahasia Umur Panjang Orang Jepang

HINGGA kini para pakar masih saja penasaran dengan rahasia umur panjang orang Jepang.

Rata-rata pria Jepang dapat mencapai umur 76,35 tahun dan wanitanya 82,84 tahun. Bandingkan dengan orang Swiss yang rata-rata pria 74,10 tahun dan wanita 80,90 tahun. Sedangkan orang Amerika hanya 72,30 tahun pada pria dan wanita 79,10 tahun...[baca selangkapnya]








Antioksidan Resep Sehat & Umur Panjang











Untuk mendapatkan tubuh sehat dan umur panjang, orang melakukan banyak hal. Mulai dari olahraga, menyantap makanan tambahan, sampai bedah kosmetik untuk mengencangkan kulit yang mulai keriput.[baca selengkapnya]

===================================================================


Antioksidan, Radikal Bebas, dan Penuaan

Menjadi tua adalah takdir, hukum alam yang tak dapat ditepis. Ketika kehidupan itu dimulai meski ia baru berupa noktah sel embrio, proses penuaan pun serta-merta berlangsung. Namun, kini para ahli dengan segala kecanggihan penemuannya berteori, proses takdir itu dapat diperlambat. Tersebutlah sebuah zat bernama antioksidan. Lalu, seberapa jauh sebenarnya peran si antioksidan itu?[baca selengkapnya]



Tuesday, March 20, 2007

TESTIMONY Orang-orang yang memakai Program Detoksifikasi

Berikut ini adalah testimony-testimony yang berhasil kami kumpulkan dari berbagai daerah di Indonesia, sebenarnya cukup banyak yang mengirimkan kisah-kisah pemulihan yang sangat menarik kepada kami, namun banyak yang tidak dilengkapi dengan data pendukung yaitu berupa bukti pemeriksaan medis, sehingga kami tidak bisa tampilkan. Semata-mata karena kami ingin kisah yang kami angkat dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.


Selamat kepada siapa saja yang telah merasakan manfaat produk-produk kesehatan bermutu yang telah kami pasarkan dan terimakasih kepada testimonior yang telah memberikan kesaksian.


Semoga testimony ini bisa menjadi bagian pencerah jalan bagi mereka yang ingin mendapatkan kesehatannya kembali.







Jakarta, Februari 2007


"Kesehatan adalah harta yang sangat berharga dan nikmat sampai akhir hidup kita
Dan hanya pada saat sakit kita akan sangat menghargai apa arti hidup sehat"





















Jika anda ingin menanyakan sesuatu tentang testimony diatas silahkan kirimkan via email detokshop@yahoo.co.id atau sms/call 081806093006/ 021 92554702 jika ingin secepatnya mendapatkan informasi.
























TESTIMONIAL ANDA


Gejala Lupus
(H.N A, 27 tahun - Jakarta)
Komplikasi (Liver, Diabetes, dll )
(Djulli Waty, 44 tahun - Jakarta Utara)
Kadar Gula Darah Tinggi
(Suyanto, 39 tahun - Jakarta)
Gondok 17 Tahun & Kolesterol
(Oey Tenny, 45 tahun - Jakarta Barat)
Psoriasis
(Dadan Sunandar, 22 tahun - Sumedang)
Glaukoma
(Ernayanti H, 60 tahun - Bandung)
Dermatitis Atopik
(Kelvin David S, 7 tahun - Jakarta)
Mata Minus & Berat Badan Lebih
(Uyus Siti Sofiah, 40 tahun - Bandung)
Hipertiroid
(Anni Inriyani, 30 tahun - Sumedang)
Lebih Langsing & Berotot
(Ade Sulistio, 22 tahun - Bandung)
Kista Pada Leher
(Dede Wiani, 46 tahun - Sumedang)
Turun Berat Badan 11 Kg
(Sri Bulan Lanny, 43 tahun - Jakarta)
Diabetes Melitus & Katarak
(Surita Sutiaty, 79 tahun - Jakarta)
Turun Berat Badan 18 Kg
(Yanti Sifina, 30 tahun - Pekanbaru)
Gagal Ginjal Kronik
(Bambang S, 51 tahun - Surabaya)
Turun Berat Badan 13 Kg
(BQ Maliagustina, 46 tahun - Mataram)
Hipertensi & Gula Darah Tinggi
(C Lanny Masita, 52 tahun - Malang)

Testimony dan kesaksian